Cerita Malam
Senja yang biasa kutatap telah lenyap
Langit hitam semoga tak kelam merayap pelan dan pasti
Dalam malam, apakah akan sama dimana-mana?
Keriuhannya…
Satu tempat riuh dengan iramanya
Satu tempat riuh dengan kesenyapannya
Satu tempat riuh dengan harmoninya
Satu tempat riuh dengan jeritannya
Satu tempat riuh dengan tangisnya
Satu tempat riuh dengan tawanya
Satu tempat riuh dengan congkaknya
Rangkuman cerita riuh rendah malam yang beragam
Bawa aku dalam riuhmu yang mendamaikan
Hanyut yang tak menghanyutkan
Merdu yang mencerahkan
Dalam satu episodenya
Dalam riuh malam milik Surabaya, 4 Mei 2009
Jumat, 08 Mei 2009
Dinner: Haiku
Dinner: Haiku
( 1 )
just sitting down on the corner
Emptied my spaghetti
Continued with my sundae ice cream
( 2 )
My sight out to the road
The busy way
Never stop like walk of ants
( 3 )
Three palms in front of me
Reminded my lover
So sweet and tenderly
( 1 )
just sitting down on the corner
Emptied my spaghetti
Continued with my sundae ice cream
( 2 )
My sight out to the road
The busy way
Never stop like walk of ants
( 3 )
Three palms in front of me
Reminded my lover
So sweet and tenderly
Selasa, 05 Mei 2009
Anak Kelahi
Pagi yang cerah seperti pagi kemarin dimana Panas Matahari sudah terasa menyengat ketika pukul 8 pagi, seorang Teman datang dengan tergopoh-gopoh dan bersemangat bercerita denganku bahwa kemarin anaknya yang masih sekolah di pendidikan dasar ( SD ) barusan berkelahi.
Wuih dengan penuh semangat temenku yang manis bercerita..”Wah anakku barusan berkelahi dengan teman bermainnya. Kepala anaku diantukkan ke meja hingga pulang sekolah benjol dan lebam. Trus ya.. karena geram, besok pagi-nya aku datang ke sekolah anakku tuk melaporkan kasus perkelahiannya ke Kepala Sekolah. Nah ketika aku lapor yang bikin mangkel, sakit hati, eee..Kepala Sekolahnya malah menanggapi kasus ini dengan dingin. Lha Yo opo..anak orang kok diperlakukan begitu??? Sapa sing ndak marah” wah Nada tinggi dari temenku naik-turun komplit dengan acungan tangannya.
“Kata Kepala sekolah-nya Lho..bu..anakknya berkelahi ya kemarin??? Tapi sekarang mohon ibu lihat lagi, itu mereka sudah bermain bersama kembali. Sudah baikan, sperti tidak ada masalah. “
Nah Gludak!!!! Wajah temenku langsung lunglai..lemes..dalam hati..Kurang ajar!
Dia bilang ke aku bahwa” Mo jawab gimana aku..hah..sini sek sakit hati, trus dibela-belain sampe datang ke Sekolah lapor, nemuin Kepala Sekolah sgala. EEee…..anaknya malah dah baikan alias damai. So ya sudahlah…namanya juga anak kecil. Abis kelahi, tengkar, eee besoknya balik lagi. Seperti gag terjadi apa-apa.”
****
Nah by the way dari cerita diatas aku mulai menganalisa manajemen konflik antara orang tua dengan anak-anak jelas sangat berbeda dan jauh berbeda.
Kalo’ mungkin yang berkonflik ato yang berkelahi orang dewasa entah ya..Faktor penyebab ato sumber masalah dari konfliknya apa..pastilah process of conflict terjadi lebih seru. Adu mulut, konflik dengan kontak fisik, konflik bisa melebar dari skala individu hingga groups, kekerasan ( violence ) hingga sifatnya destruktif, terror, intimidasi, menyakiti satu sama lain dan bahkan Membunuh alamak! Akan dan kemungkinan besar bisa terjadi bukan konflik melebar-meluas? Ya seperti dalam kasus yang sekarang masih tren..Pembunuhan Nasruddin yang katanya disinyalir didalangi Ketua KPK kita Antasari Azhar. Kasus mantan Model cantik Manohara dengan Fachri, putra mahkota di Malaysia, yang jadi isu nasional antara Indonesia-Malaysia. Dan banyak contonhya..bahkan Madura ( dengan carok )dan beberapa etnis tertentu Di Indonesia punya tradisi tersendiri tuk menyelesaikan konflik. ( saya tidak bermaksud men-under estimate etnis lo , hanya ngasih contoh tentang manajemen dan penyelesaian konflik khas Etnis. )
Bila konflik terjadi pada anak-anak akan sangat jarang meluas dan melebar. Kecuali beberapa kasus yang ditemukan hingga menjadi konflik yang serius ( contoh, misalnya terdapat kasus pembunuhan oleh anak dengan teman sepermainannya ,,jujur saya lupa 5 W + I H ttg kasus tersebut tapi ada kok..bisa dicek di Mbah Google). Kebanyakan..( saya belum berani menyimpulkan sebagai final result karena ini masih hipotesis saya selama pengamatan dan interaksi saya dengan anak-anak yang tiap hari saya lakukan. ) konflik dalam dunia anak cenderung lebih damai dan eskhalasi konflik tidak akan terjadi dalam jangka waktu yang lama. Dalam Dunia anak, mereka memiliki manajemen ato pengelolaan konflik sendiri. Namanya juga anak..rebutan bola, senggolan, hal-hal yang mungkin remeh-temeh bagi orang dewasa menjadi sumber ato penyebab konflik. Manajemen konflik pada anak berlangsung lebih cepat. Mekanisme-nya mereka belajar juga dari konflik..bahwa dalam pertemanan mereka saling membutuhkan satu sama lain. Masing-masing pihak yang berkonflik berusaha menghargai dan akhirnya damailah..main lagi..Horay..main lagi, konflik berakhir. Rekonsiliasi terjadi.
Nah bila melibatkan mediasi..sperti kasus temanku tadi akan menjadi lebih rumit. Proses mediasi mungkin akan melebarkan konflik. Pihak-pihak yang sakit hati bertambah banyak. Nah…ibu & bapak yang baik dan bijaksana akan lebih baik ( semoga saya tidak salah ) bila kita biarkan manajemen konflik dilakukan oleh anak-anak sendiri. Sebagai manusia yang dikaruniai akal dan hati nurani tentunya mereka belajar dari konflik. Yang akhirnya menjadi enduring understanding mereka bahwa berkonflik itu tidak enak. Punya musuh, dimusuhi itu bikin hati tak nyaman. Berkelahi tu bisa menyebabkan sakit. Biarkan anak yang menyelesaikan.
Konflik orang tua….yang harusnya bijaksana biasanya sangat rumit. Panjang kali lebar, plus lebar kali tinggi. In the name of pride, ideology, RACISM, and some roots & factors nation..konflik terjadi. Bahkan harus mengorbankan darah, harta, nyawa terus terjadi. Bagi yang belajar sejarah tentunya bisa menganalisa sendiri. Dan yang jahat serta mengoyak kemanusiaan kita adalah dendam dan luka sejarah yang akan terus mengangga dari generasi ke generasi.
Wallahu’alam Bishowab.
Surabaya, 5 May 2009.
Sari.
Wuih dengan penuh semangat temenku yang manis bercerita..”Wah anakku barusan berkelahi dengan teman bermainnya. Kepala anaku diantukkan ke meja hingga pulang sekolah benjol dan lebam. Trus ya.. karena geram, besok pagi-nya aku datang ke sekolah anakku tuk melaporkan kasus perkelahiannya ke Kepala Sekolah. Nah ketika aku lapor yang bikin mangkel, sakit hati, eee..Kepala Sekolahnya malah menanggapi kasus ini dengan dingin. Lha Yo opo..anak orang kok diperlakukan begitu??? Sapa sing ndak marah” wah Nada tinggi dari temenku naik-turun komplit dengan acungan tangannya.
“Kata Kepala sekolah-nya Lho..bu..anakknya berkelahi ya kemarin??? Tapi sekarang mohon ibu lihat lagi, itu mereka sudah bermain bersama kembali. Sudah baikan, sperti tidak ada masalah. “
Nah Gludak!!!! Wajah temenku langsung lunglai..lemes..dalam hati..Kurang ajar!
Dia bilang ke aku bahwa” Mo jawab gimana aku..hah..sini sek sakit hati, trus dibela-belain sampe datang ke Sekolah lapor, nemuin Kepala Sekolah sgala. EEee…..anaknya malah dah baikan alias damai. So ya sudahlah…namanya juga anak kecil. Abis kelahi, tengkar, eee besoknya balik lagi. Seperti gag terjadi apa-apa.”
****
Nah by the way dari cerita diatas aku mulai menganalisa manajemen konflik antara orang tua dengan anak-anak jelas sangat berbeda dan jauh berbeda.
Kalo’ mungkin yang berkonflik ato yang berkelahi orang dewasa entah ya..Faktor penyebab ato sumber masalah dari konfliknya apa..pastilah process of conflict terjadi lebih seru. Adu mulut, konflik dengan kontak fisik, konflik bisa melebar dari skala individu hingga groups, kekerasan ( violence ) hingga sifatnya destruktif, terror, intimidasi, menyakiti satu sama lain dan bahkan Membunuh alamak! Akan dan kemungkinan besar bisa terjadi bukan konflik melebar-meluas? Ya seperti dalam kasus yang sekarang masih tren..Pembunuhan Nasruddin yang katanya disinyalir didalangi Ketua KPK kita Antasari Azhar. Kasus mantan Model cantik Manohara dengan Fachri, putra mahkota di Malaysia, yang jadi isu nasional antara Indonesia-Malaysia. Dan banyak contonhya..bahkan Madura ( dengan carok )dan beberapa etnis tertentu Di Indonesia punya tradisi tersendiri tuk menyelesaikan konflik. ( saya tidak bermaksud men-under estimate etnis lo , hanya ngasih contoh tentang manajemen dan penyelesaian konflik khas Etnis. )
Bila konflik terjadi pada anak-anak akan sangat jarang meluas dan melebar. Kecuali beberapa kasus yang ditemukan hingga menjadi konflik yang serius ( contoh, misalnya terdapat kasus pembunuhan oleh anak dengan teman sepermainannya ,,jujur saya lupa 5 W + I H ttg kasus tersebut tapi ada kok..bisa dicek di Mbah Google). Kebanyakan..( saya belum berani menyimpulkan sebagai final result karena ini masih hipotesis saya selama pengamatan dan interaksi saya dengan anak-anak yang tiap hari saya lakukan. ) konflik dalam dunia anak cenderung lebih damai dan eskhalasi konflik tidak akan terjadi dalam jangka waktu yang lama. Dalam Dunia anak, mereka memiliki manajemen ato pengelolaan konflik sendiri. Namanya juga anak..rebutan bola, senggolan, hal-hal yang mungkin remeh-temeh bagi orang dewasa menjadi sumber ato penyebab konflik. Manajemen konflik pada anak berlangsung lebih cepat. Mekanisme-nya mereka belajar juga dari konflik..bahwa dalam pertemanan mereka saling membutuhkan satu sama lain. Masing-masing pihak yang berkonflik berusaha menghargai dan akhirnya damailah..main lagi..Horay..main lagi, konflik berakhir. Rekonsiliasi terjadi.
Nah bila melibatkan mediasi..sperti kasus temanku tadi akan menjadi lebih rumit. Proses mediasi mungkin akan melebarkan konflik. Pihak-pihak yang sakit hati bertambah banyak. Nah…ibu & bapak yang baik dan bijaksana akan lebih baik ( semoga saya tidak salah ) bila kita biarkan manajemen konflik dilakukan oleh anak-anak sendiri. Sebagai manusia yang dikaruniai akal dan hati nurani tentunya mereka belajar dari konflik. Yang akhirnya menjadi enduring understanding mereka bahwa berkonflik itu tidak enak. Punya musuh, dimusuhi itu bikin hati tak nyaman. Berkelahi tu bisa menyebabkan sakit. Biarkan anak yang menyelesaikan.
Konflik orang tua….yang harusnya bijaksana biasanya sangat rumit. Panjang kali lebar, plus lebar kali tinggi. In the name of pride, ideology, RACISM, and some roots & factors nation..konflik terjadi. Bahkan harus mengorbankan darah, harta, nyawa terus terjadi. Bagi yang belajar sejarah tentunya bisa menganalisa sendiri. Dan yang jahat serta mengoyak kemanusiaan kita adalah dendam dan luka sejarah yang akan terus mengangga dari generasi ke generasi.
Wallahu’alam Bishowab.
Surabaya, 5 May 2009.
Sari.
Children are Vulnerable
Oleh : Sari Oktafiana
Karena anak –anak itu rawan. Itulah jawaban murid-muridku di kelas VII ketika kami berdiskusi mengapa harus ada hak –hak anak dan mengapa hak-hak anak itu harus dilindungi. Saat ini kami sedang belajar human rights, Kami belajar untuk mengidentifikasi tentang hak dan tanggung jawab kita sebagai manusia secara social dan mahluk pribadi.
Lalu ketika muridku mendefinisikan tentang Who are children dan what are the best for children?
Mereka punya definisi yang berbeda-beda. Untuk anak itu sendiri mereka mengidentifikasikan bahwa anak adalah manusia yang berumur dibawah 18 tahun. Sangat rentan secara fisik dan psikologi sehingga harus ada regulasi yang melindungi dan merawat anak-anak sehingga mereka bisa menjadi generasi yang mampu membawa dunia yang lebih baik di masa mendatang.” Kami adalah harapan di masa mendatang, Miss! so we have to deserve our rights!”.
What are the best for children? The main concern it must be children. Apa-apa yang yang dibutuhkan anak dan yang baik untuk anak. Semuanya harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi kami sebagai anak. Begitulah kira-kira jawaban muridku dalam diskusi kelas kmarin.
Lalu saya menyentil, apakah semua anak sudah mendapatkan hak-haknya semestinya? No, Not yet.
Muridku menjawab, “actually every children is free from discrimination, whatever they are, their skin, races, tribes, gender and come from rich or poor family we have treat equally.” Wow diplomatis sekali mereka menjawabnya.
Dan bagaimana dengan anak-anak jalanan, anak-anak dari daerah pelosok Indonesia yang belum mendapatkan pendidikan dengan baik, belum mendapatkan makanan dan tempat tinggal yang layak?
Dan bagaimana dengan kisah asmara Syekh Puji dan Ulfa yang notabene masih berumur 12 tahun?
Waduh miss, we don’t need to marry, we still younger. So hard and difficult for us to understand the dynamic of married. When my parents must be divorced, I can’t explain why? Cause of we are vulnerable. Parents, Government must protect and apply our rights. All children must get education, get adequate living standard and free from trafficking. I saw many Indonesian children haven’t get their rights properly yet. So we have to hand in hand together to make it happen, against children rights violence!”. Demikian jawaban muridku.
Saat bel berbunyi tanda pelajaran berakhir. Saya hanya bisa tertegun. Begitu kompleksnya masalah dari hak-hak anak. Mungkin kita sebagai orang tua, dan orang yang lebih dewasa hendaknya lebih arif melihat sekitar kita. Berapa jumlah anak-anak yang masih belum mendapatkan hak-haknya? Belum sekolah, bayi-bayi malnutrisi, harus bekerja ketika dia masih harus belajar dan bermain-main untuk memaknai hidup. Serta mungkin kita juga kadang kurang mempertimbangkan apa yang terbaik untuk anak. Dengan memaksakan harapan-harapan orang tua.
Children are very vulnerable…
Salam,
Sari.
Karena anak –anak itu rawan. Itulah jawaban murid-muridku di kelas VII ketika kami berdiskusi mengapa harus ada hak –hak anak dan mengapa hak-hak anak itu harus dilindungi. Saat ini kami sedang belajar human rights, Kami belajar untuk mengidentifikasi tentang hak dan tanggung jawab kita sebagai manusia secara social dan mahluk pribadi.
Lalu ketika muridku mendefinisikan tentang Who are children dan what are the best for children?
Mereka punya definisi yang berbeda-beda. Untuk anak itu sendiri mereka mengidentifikasikan bahwa anak adalah manusia yang berumur dibawah 18 tahun. Sangat rentan secara fisik dan psikologi sehingga harus ada regulasi yang melindungi dan merawat anak-anak sehingga mereka bisa menjadi generasi yang mampu membawa dunia yang lebih baik di masa mendatang.” Kami adalah harapan di masa mendatang, Miss! so we have to deserve our rights!”.
What are the best for children? The main concern it must be children. Apa-apa yang yang dibutuhkan anak dan yang baik untuk anak. Semuanya harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi kami sebagai anak. Begitulah kira-kira jawaban muridku dalam diskusi kelas kmarin.
Lalu saya menyentil, apakah semua anak sudah mendapatkan hak-haknya semestinya? No, Not yet.
Muridku menjawab, “actually every children is free from discrimination, whatever they are, their skin, races, tribes, gender and come from rich or poor family we have treat equally.” Wow diplomatis sekali mereka menjawabnya.
Dan bagaimana dengan anak-anak jalanan, anak-anak dari daerah pelosok Indonesia yang belum mendapatkan pendidikan dengan baik, belum mendapatkan makanan dan tempat tinggal yang layak?
Dan bagaimana dengan kisah asmara Syekh Puji dan Ulfa yang notabene masih berumur 12 tahun?
Waduh miss, we don’t need to marry, we still younger. So hard and difficult for us to understand the dynamic of married. When my parents must be divorced, I can’t explain why? Cause of we are vulnerable. Parents, Government must protect and apply our rights. All children must get education, get adequate living standard and free from trafficking. I saw many Indonesian children haven’t get their rights properly yet. So we have to hand in hand together to make it happen, against children rights violence!”. Demikian jawaban muridku.
Saat bel berbunyi tanda pelajaran berakhir. Saya hanya bisa tertegun. Begitu kompleksnya masalah dari hak-hak anak. Mungkin kita sebagai orang tua, dan orang yang lebih dewasa hendaknya lebih arif melihat sekitar kita. Berapa jumlah anak-anak yang masih belum mendapatkan hak-haknya? Belum sekolah, bayi-bayi malnutrisi, harus bekerja ketika dia masih harus belajar dan bermain-main untuk memaknai hidup. Serta mungkin kita juga kadang kurang mempertimbangkan apa yang terbaik untuk anak. Dengan memaksakan harapan-harapan orang tua.
Children are very vulnerable…
Salam,
Sari.
Selasa, 03 Maret 2009
Pernikahan
Pernikahan
Sebentar lagi kakak sepupuku menikah. Di usia 28 tahun akhirnya dia mengakhiri masa lajangnya. Pernikahan adalah impiannya, sebagai tempat persinggahan hati-nya untuk menjadi lebih bermakna dan menjadi perempuan seutuhnya. Aku tahu, aku selalu mengikuti kisahnya, dalam usaha menemukan pasangan jiwa. Penuh perjuangan. Kadang kala bertemu dengan laki-laki yang dicintai tapi ternyata “kurang cocok” untuk menjadi partner hidup. Memang tidak mudah untuk menemukan “jodoh”. Entahlah dalam hal ini bagiku “jodoh” merupakan suatu hal yang misterius dan scenario Tuhan. Bila tidak percaya, tolong direnungkan sendiri. Ketika kita mencintai seseorang tapi suatu ketika keadaan membentur dan cinta-pun takluk disitu. Kita pun memaksa, lalu kita kesakitan sendiri dan akhirnya tetap tak bisa bersatu. Kita harus tawakkal. Seorang sahabat, pernah bercerita kepadaku dengan begitu manis tentang perjalanan hidup, Kita harus selalu berjuang dalam hidup, focus on the positives, tetapi dalam proses selanjutnya “The judge maker” tetap Tuhan, berapa persen usaha kita meraihnya, berapa persen hasilnya biarlah itu menjadi urusan Tuhan dengan itu hidup akan damai. Masih mendengarkan saran sahabatku, katanya kita janganlah sok cerdas membaca mana yang terbaik untuk kita. Kita masih parsial membaca hidup kita sendiri, ada yang Maha Sempurna yaitu Tuhan bila kita mempercayainya. Suatu hari nanti kita akan menyadarinya kalau kita mampu merenung dan bersyukur, menangkap cerah-cerahNya. Sehingga sahabat tersebut mengakhiri pembicaraan kami dengan, Sari, setialah dengan jalanmu, bahagialah dengan pilihan hidupmu, Ingatlah dalam suka yang begitu membahana kita suatu hari nanti akan membayarnya juga dengan airmata,kesedihan. Dalam bahasa Gunawan Moehammad, dalam sajaknya yang berjudul “Kwatrin Sebuah Poci” kita dalam hidup telah memahat artefak-artefak buah perjalanan merupakan sesuatu yang kelak retak dan kita telah membuatnya abadi.
Ya memang tidak mudah memaknainya…aku juga belajar memahaminya.
Kembali ke pernikahan, didalamnya akan terdapat banyak hal yang akan kita pelajari. Pertama, untuk tidak menjadi Tidak egois, meredam kepentingan kita agar tidak mendominasi. Kedua, Menerima dengan segala kekurangan dan kelebihan partner hidup kita. Ketiga, adalah menghargai perbedaan cara hidup dan pola pikir. Keempat, yang pasti harus saling teguh dan setia dalam janji. Dan masih banyak hal yang lain..begitu banyak, beragam dan berbagai rasa.
Untuk mbakyuku, dari lubuk hati yang terdalam aku ucapkan Selamat berjuang! Keeps on struggling! Semoga Tuhan yang Maha Baik memberkati rencana-rencanamu dengan keluarga barumu. Selamat berlayar, semoga kau temukan pulau yang indah dengan laut yang mengharu-biru dan keluarga baru yang ramah denganmu.
Salam dan doaku. Selalu.
Sari.
Sebentar lagi kakak sepupuku menikah. Di usia 28 tahun akhirnya dia mengakhiri masa lajangnya. Pernikahan adalah impiannya, sebagai tempat persinggahan hati-nya untuk menjadi lebih bermakna dan menjadi perempuan seutuhnya. Aku tahu, aku selalu mengikuti kisahnya, dalam usaha menemukan pasangan jiwa. Penuh perjuangan. Kadang kala bertemu dengan laki-laki yang dicintai tapi ternyata “kurang cocok” untuk menjadi partner hidup. Memang tidak mudah untuk menemukan “jodoh”. Entahlah dalam hal ini bagiku “jodoh” merupakan suatu hal yang misterius dan scenario Tuhan. Bila tidak percaya, tolong direnungkan sendiri. Ketika kita mencintai seseorang tapi suatu ketika keadaan membentur dan cinta-pun takluk disitu. Kita pun memaksa, lalu kita kesakitan sendiri dan akhirnya tetap tak bisa bersatu. Kita harus tawakkal. Seorang sahabat, pernah bercerita kepadaku dengan begitu manis tentang perjalanan hidup, Kita harus selalu berjuang dalam hidup, focus on the positives, tetapi dalam proses selanjutnya “The judge maker” tetap Tuhan, berapa persen usaha kita meraihnya, berapa persen hasilnya biarlah itu menjadi urusan Tuhan dengan itu hidup akan damai. Masih mendengarkan saran sahabatku, katanya kita janganlah sok cerdas membaca mana yang terbaik untuk kita. Kita masih parsial membaca hidup kita sendiri, ada yang Maha Sempurna yaitu Tuhan bila kita mempercayainya. Suatu hari nanti kita akan menyadarinya kalau kita mampu merenung dan bersyukur, menangkap cerah-cerahNya. Sehingga sahabat tersebut mengakhiri pembicaraan kami dengan, Sari, setialah dengan jalanmu, bahagialah dengan pilihan hidupmu, Ingatlah dalam suka yang begitu membahana kita suatu hari nanti akan membayarnya juga dengan airmata,kesedihan. Dalam bahasa Gunawan Moehammad, dalam sajaknya yang berjudul “Kwatrin Sebuah Poci” kita dalam hidup telah memahat artefak-artefak buah perjalanan merupakan sesuatu yang kelak retak dan kita telah membuatnya abadi.
Ya memang tidak mudah memaknainya…aku juga belajar memahaminya.
Kembali ke pernikahan, didalamnya akan terdapat banyak hal yang akan kita pelajari. Pertama, untuk tidak menjadi Tidak egois, meredam kepentingan kita agar tidak mendominasi. Kedua, Menerima dengan segala kekurangan dan kelebihan partner hidup kita. Ketiga, adalah menghargai perbedaan cara hidup dan pola pikir. Keempat, yang pasti harus saling teguh dan setia dalam janji. Dan masih banyak hal yang lain..begitu banyak, beragam dan berbagai rasa.
Untuk mbakyuku, dari lubuk hati yang terdalam aku ucapkan Selamat berjuang! Keeps on struggling! Semoga Tuhan yang Maha Baik memberkati rencana-rencanamu dengan keluarga barumu. Selamat berlayar, semoga kau temukan pulau yang indah dengan laut yang mengharu-biru dan keluarga baru yang ramah denganmu.
Salam dan doaku. Selalu.
Sari.
Selasa, 16 Desember 2008
Kisah tentang Sungai
Kisah Tentang Sungai
Catatan dari tepi Sungai Surabaya
Pada tulisan kali ini terinspirasi ketika saya harus menemani murid-muridku menjelajah dan menyusuri Kali Surabaya. Kali Surabaya merupakan sungai yang membelah Surabaya dari mulai perbatasan daerah Sepanjang, Sidoarjo mengalir ke Surabaya hingga ujung Surabaya perbatasan Gresik. Apa yang kami lihat, apa yang kami temui ketika menyusuri Kali Surabaya dengan speed boat yang di setting perlahan. Sebagai informasi tambahan bahwa Kali Surabaya merupakan bahan baku dan salah satu sumber bagi penyediaan air PDAM Surabaya.
Yang kami lihat, kami temui sepanjang perjalanan kami menyusuri Kali Surabaya bila dikategorisasikan dengan pembedaan wilayah urban, sub urban hingga daerah industri di kawasan Gresik yang merupakan daerah hilir Kali Surabaya, saya hanya bisa meratapi kemunduran peradapan manusia yang nota bene hidup di alam modern dan dikatakan lebih beradap dari ancestor kita sebelumnya.
What’s up? What’s going on? Ada apa dengan kisah tentang sungai-sungai di kota-kota besar di Indonesia? Mungkin jawabannya kalau saya tidak salah tidak jauh berbeda dengan Kali Surabaya yang makin hari semakin merana, dimana kita memandang sungai sebagai tempat sampah, tempat pembuangan apakah itu limbah pabrik, limbah rumah tangga dengan puluhan kubik limbah dari detergen, pasta gigi, shampoo, dan limbah kimia lainnya. Sungai yang dulunya mengalir dengan warna coklat dalam gulatan lumpur menjadi sungai yang berwarna hitam kepekatan dengan permukaan yang penuh sampah plastik. Inikah wajah sungai-sungai di kota-kota besar Indonesia?
Bila musim penghujan seperti saat ini datang apa yang terjadi dengan Kali Surabaya? Di beberapa Daerah aliran sungai ( DAS ) Kali Surabaya mendapatkan “berkah” musiman yaitu banjir. Banjir bukan lagi “Gift” seperti dalam sejarah ancient Egypt, dimana banjir dari sungai Nile dalam sejarah ancient Egypt adalah suatu peristiwa yang dirindukan oleh rakyat mesir kala itu. Sepanjang daerah sungai Nile mulai dari upper Egypt hingga lower Egypt akan menjadi subur dan kehidupan akan menjadi semarak, irigasi pertanian akan terjaga, tanah-tanah endapan sungai akan menyuburkan pertanian, pakan ternak akan terjaga, dan kegiatan perdagangan pun akan berjalan, sungai sebagai bagian vital dari kehidupan dan peradapan. Sungai sebagai pusat transportasi, pertukaran kebudayaan, sungai sebagai bagian dari pertahanan keamanan kekuasaan politik, sungai sebagai roda ekonomi, dan sungai sebagai basis kehidupan social. Bila belajar sejarah terutama the history of great civilization, kita akan menemukan hikmah akan pentingnya sungai dan bagaimana memperlakukan sungai untuk mengukur maju atau mundurnya peradapan.
Beberapa sejarah peradapan besar dunia menjadi great civilization seperti ancient Egypt dengan Nile river-nya, Ancient China dengan Yang Tze river dan Huang He river ( sungai kuning= terkenal dengan luapan lumpurnya ketika banjir ), India dengan Indus river, Mesopotamia dengan Euphrates river dan Tigris river. Salah satu faktornya adalah karena peran pentingnya sungai dan memperlakukan sungai sebagai bagian penting urat nadi kehidupan. Sungai akan menjadi berkah, mengalir dengan jernih, sejauh jangkauannya menuju lautan, samudera luas, sebagai tujuan akhir, bila pun banjir, luapan airnya tidak akan mengamuk tidak pada tempatnya, bila kita bersahabat dengan sungai dan dengan begitu the growth of civilization will be happen. Tidak mundur dan tidak akan menjadi bencana yang mengancam bila hujan tidak akan banjir membabi buta dan bila pun musim panas tidak akan mengering tetap mengalir.
Tapi sayangnya, itu semuanya bagi kisah sungai di Indonesia hanya akan menjadi romantika belaka. Sungai-sungai yang membelah beberapa kota besar di Indonesia akan menjadi sebuah sungai yang menunjukkan wajah dan potret arah masa depan sebuah kota. Untuk menjadi Necropolis, kota yang tenggelam, kacau, dengan urbanisasi yang kian meningkat dan tidak seimbang dengan daya dukung kota dan buruknya manajemen pengelolaannya. Atau pilihan berikutnya menjadi kota organopolis, kota yang dinamis dengan good management in sustainable development and environment. Seimbang dengan rimba betonnya dan seimbang dengan hutan kotanya sebagai ruang air untuk meresap.
Kembali menyusuri Kali Surabaya, dari daerah urban sejauh mata memandang, dari kanan dan kiri yang kami lihat, pipa-pipa saluran limbah rumah tangga, WC umum yang jumlahnya puluhan tak terhitung lagi, sampah plastik mengapung menghalangi jalan perahu kami, dan terbayang bagaimana kehidupan ikan-ikan dan hewan-hewan invertebrata lainnya. Bagaimana mereka bisa bertahan dalam kondisi air, habitat mereka yang kian terancam untuk punah. Lalu perahu kami pun terus menyusuri hingga daerah sub urban, yang merupakan daerah kawasan Industri di Gresik. Pemandangan yang kami lihat awalnya DAS yang penuh rumput ilalang, tapi dibalik rumput ilalang terdapat pipa-pipa yang jauh lebih besar yang mengeluarkan air yang berbuih…tak tahu jenis sampah apa lagi yang sedang dibuang. Dan kami teliti bagaimana kualitas air Kali Surabaya di daerah urban dan sub urban hasilnya kualitas air di daerah urban lebih baik karena limbah yang mencemari masih limbah rumah tangga tetapi Kali Surabaya di daerah sub urban memasuki kawasan industri Gresik lebih buruk dengan kadar pencemaran yang lebih tinggi.
Perahu kami pun kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang, DAS Kali Surabaya dari kanan-kiri merupakan potret ketimpangan dan kesenjangan adopsi pilihan modernisasi dan developmentalisme. Masih terdapat orang-orang yang tetap bertahan dalam segala keterbatasan yang kian menghimpit, kampung-kampung “kumuh” dengan pemandangan orang-orang yang mandi, mencuci di sungai yang berwarna coklat pekat dengan sampah yang mengapung. Dan sisi lainnya gedung-gedung yang menjulang tinggi yang menunjukkan kegagahan dari developmentalisme.
Dari kisah tentang sungai, kemanakah kita akan membawa alirannya? Bersahabat dengan sungai atau sungai sebagai tempat sampah. Menjadi great civilization atau the decline of civilization?
Alam liar tidak membutuhkan manusia,tapi sebaliknya!
Wallahu’lam Bishowab.
Sari Oktafiana.
Catatan dari tepi Sungai Surabaya
Pada tulisan kali ini terinspirasi ketika saya harus menemani murid-muridku menjelajah dan menyusuri Kali Surabaya. Kali Surabaya merupakan sungai yang membelah Surabaya dari mulai perbatasan daerah Sepanjang, Sidoarjo mengalir ke Surabaya hingga ujung Surabaya perbatasan Gresik. Apa yang kami lihat, apa yang kami temui ketika menyusuri Kali Surabaya dengan speed boat yang di setting perlahan. Sebagai informasi tambahan bahwa Kali Surabaya merupakan bahan baku dan salah satu sumber bagi penyediaan air PDAM Surabaya.
Yang kami lihat, kami temui sepanjang perjalanan kami menyusuri Kali Surabaya bila dikategorisasikan dengan pembedaan wilayah urban, sub urban hingga daerah industri di kawasan Gresik yang merupakan daerah hilir Kali Surabaya, saya hanya bisa meratapi kemunduran peradapan manusia yang nota bene hidup di alam modern dan dikatakan lebih beradap dari ancestor kita sebelumnya.
What’s up? What’s going on? Ada apa dengan kisah tentang sungai-sungai di kota-kota besar di Indonesia? Mungkin jawabannya kalau saya tidak salah tidak jauh berbeda dengan Kali Surabaya yang makin hari semakin merana, dimana kita memandang sungai sebagai tempat sampah, tempat pembuangan apakah itu limbah pabrik, limbah rumah tangga dengan puluhan kubik limbah dari detergen, pasta gigi, shampoo, dan limbah kimia lainnya. Sungai yang dulunya mengalir dengan warna coklat dalam gulatan lumpur menjadi sungai yang berwarna hitam kepekatan dengan permukaan yang penuh sampah plastik. Inikah wajah sungai-sungai di kota-kota besar Indonesia?
Bila musim penghujan seperti saat ini datang apa yang terjadi dengan Kali Surabaya? Di beberapa Daerah aliran sungai ( DAS ) Kali Surabaya mendapatkan “berkah” musiman yaitu banjir. Banjir bukan lagi “Gift” seperti dalam sejarah ancient Egypt, dimana banjir dari sungai Nile dalam sejarah ancient Egypt adalah suatu peristiwa yang dirindukan oleh rakyat mesir kala itu. Sepanjang daerah sungai Nile mulai dari upper Egypt hingga lower Egypt akan menjadi subur dan kehidupan akan menjadi semarak, irigasi pertanian akan terjaga, tanah-tanah endapan sungai akan menyuburkan pertanian, pakan ternak akan terjaga, dan kegiatan perdagangan pun akan berjalan, sungai sebagai bagian vital dari kehidupan dan peradapan. Sungai sebagai pusat transportasi, pertukaran kebudayaan, sungai sebagai bagian dari pertahanan keamanan kekuasaan politik, sungai sebagai roda ekonomi, dan sungai sebagai basis kehidupan social. Bila belajar sejarah terutama the history of great civilization, kita akan menemukan hikmah akan pentingnya sungai dan bagaimana memperlakukan sungai untuk mengukur maju atau mundurnya peradapan.
Beberapa sejarah peradapan besar dunia menjadi great civilization seperti ancient Egypt dengan Nile river-nya, Ancient China dengan Yang Tze river dan Huang He river ( sungai kuning= terkenal dengan luapan lumpurnya ketika banjir ), India dengan Indus river, Mesopotamia dengan Euphrates river dan Tigris river. Salah satu faktornya adalah karena peran pentingnya sungai dan memperlakukan sungai sebagai bagian penting urat nadi kehidupan. Sungai akan menjadi berkah, mengalir dengan jernih, sejauh jangkauannya menuju lautan, samudera luas, sebagai tujuan akhir, bila pun banjir, luapan airnya tidak akan mengamuk tidak pada tempatnya, bila kita bersahabat dengan sungai dan dengan begitu the growth of civilization will be happen. Tidak mundur dan tidak akan menjadi bencana yang mengancam bila hujan tidak akan banjir membabi buta dan bila pun musim panas tidak akan mengering tetap mengalir.
Tapi sayangnya, itu semuanya bagi kisah sungai di Indonesia hanya akan menjadi romantika belaka. Sungai-sungai yang membelah beberapa kota besar di Indonesia akan menjadi sebuah sungai yang menunjukkan wajah dan potret arah masa depan sebuah kota. Untuk menjadi Necropolis, kota yang tenggelam, kacau, dengan urbanisasi yang kian meningkat dan tidak seimbang dengan daya dukung kota dan buruknya manajemen pengelolaannya. Atau pilihan berikutnya menjadi kota organopolis, kota yang dinamis dengan good management in sustainable development and environment. Seimbang dengan rimba betonnya dan seimbang dengan hutan kotanya sebagai ruang air untuk meresap.
Kembali menyusuri Kali Surabaya, dari daerah urban sejauh mata memandang, dari kanan dan kiri yang kami lihat, pipa-pipa saluran limbah rumah tangga, WC umum yang jumlahnya puluhan tak terhitung lagi, sampah plastik mengapung menghalangi jalan perahu kami, dan terbayang bagaimana kehidupan ikan-ikan dan hewan-hewan invertebrata lainnya. Bagaimana mereka bisa bertahan dalam kondisi air, habitat mereka yang kian terancam untuk punah. Lalu perahu kami pun terus menyusuri hingga daerah sub urban, yang merupakan daerah kawasan Industri di Gresik. Pemandangan yang kami lihat awalnya DAS yang penuh rumput ilalang, tapi dibalik rumput ilalang terdapat pipa-pipa yang jauh lebih besar yang mengeluarkan air yang berbuih…tak tahu jenis sampah apa lagi yang sedang dibuang. Dan kami teliti bagaimana kualitas air Kali Surabaya di daerah urban dan sub urban hasilnya kualitas air di daerah urban lebih baik karena limbah yang mencemari masih limbah rumah tangga tetapi Kali Surabaya di daerah sub urban memasuki kawasan industri Gresik lebih buruk dengan kadar pencemaran yang lebih tinggi.
Perahu kami pun kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang, DAS Kali Surabaya dari kanan-kiri merupakan potret ketimpangan dan kesenjangan adopsi pilihan modernisasi dan developmentalisme. Masih terdapat orang-orang yang tetap bertahan dalam segala keterbatasan yang kian menghimpit, kampung-kampung “kumuh” dengan pemandangan orang-orang yang mandi, mencuci di sungai yang berwarna coklat pekat dengan sampah yang mengapung. Dan sisi lainnya gedung-gedung yang menjulang tinggi yang menunjukkan kegagahan dari developmentalisme.
Dari kisah tentang sungai, kemanakah kita akan membawa alirannya? Bersahabat dengan sungai atau sungai sebagai tempat sampah. Menjadi great civilization atau the decline of civilization?
Alam liar tidak membutuhkan manusia,tapi sebaliknya!
Wallahu’lam Bishowab.
Sari Oktafiana.
Selasa, 02 Desember 2008
Sophie Tidak Masuk Sekolah
Waah hari sabtu yang lalu, aku tidak langsung pulang ke Tulungagung sperti weekend biasanya. Aku harus ujian TOEFL di Pare kediri. Karena ujiannya jam 6, wuih mruput banget..mau tidak mau aku harus menginap dirumah saudaraku di Pare, agar besok tidak terlambat ujiannya. Setelah ujian selesai aku pulang ke Tulungagung. sampai terminal aku-pun naik becak, tanpa minta jemput adikku sperti biasanya, itung-itung sebagai kejutan untuk sophie, suryo, samudro.
Nah aku sampai rumah. Pasti sophie sudah pulang dari sekolahnya dalam benakku, karena jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12 siang.
Wah semua antusias menyambutku. kuciumi satu per-satu putra putriku. Nah aku tanyakan ke Sophie" Bagaimana sekolahmu hari ini?" pertanyaan yang selalu kutanyakan untuknya setiap hari via telepon. kali ini dengan senyum dia menjawab: Aku tidak sekolah hari ini. "loh kenapa tidak sekolah, ini bukan hari libur?" Tanyaku penuh selidik. "Hari ini sekolah kerja bakti, aku malas kerja bakti." Gludakkkk....mataku langsung melotot mendengar jawaban Sophie. Oooh" Jadi klo kerja bakti kamu malas sekolah?" Nadaku dengan agak meninggi. dengan agak ketakutan sophie menjawab" iya".
dalam percakapan selanjutnya, untuk mengurangi rasa bersalah sophie..aku jelaskan bahwa dengan kerja bakti, kamu akan saling membantu dengan teman-teman untuk membersihkan sekolah sehingga sekolahnnya bersih, enak dan nyaman buat belajar. Iya..sophie kecil mengangguk, mengerti,..apapun kegiatan sekolah harus sekolah.
Aah sophie...apapun yang dilakukan guru-mu ikutilah..dia punya maksud dan tujuan.
Nah aku sampai rumah. Pasti sophie sudah pulang dari sekolahnya dalam benakku, karena jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12 siang.
Wah semua antusias menyambutku. kuciumi satu per-satu putra putriku. Nah aku tanyakan ke Sophie" Bagaimana sekolahmu hari ini?" pertanyaan yang selalu kutanyakan untuknya setiap hari via telepon. kali ini dengan senyum dia menjawab: Aku tidak sekolah hari ini. "loh kenapa tidak sekolah, ini bukan hari libur?" Tanyaku penuh selidik. "Hari ini sekolah kerja bakti, aku malas kerja bakti." Gludakkkk....mataku langsung melotot mendengar jawaban Sophie. Oooh" Jadi klo kerja bakti kamu malas sekolah?" Nadaku dengan agak meninggi. dengan agak ketakutan sophie menjawab" iya".
dalam percakapan selanjutnya, untuk mengurangi rasa bersalah sophie..aku jelaskan bahwa dengan kerja bakti, kamu akan saling membantu dengan teman-teman untuk membersihkan sekolah sehingga sekolahnnya bersih, enak dan nyaman buat belajar. Iya..sophie kecil mengangguk, mengerti,..apapun kegiatan sekolah harus sekolah.
Aah sophie...apapun yang dilakukan guru-mu ikutilah..dia punya maksud dan tujuan.
Langgan:
Entri (Atom)
